
Beritakreatif.com, Muara Enim,- Konsep kepemimpinan daerah yang merupakan perwujudan awal dari sebuah empati dan kecintaan dari masyarakat yang merupakan bagian dari akar rumput berdasarkan kearifan lokal daerah itu sendiri.
Hirarki pada pendekatan humanis, keteladanan, kesetaraan, dan kemampuan menyatu dengan rakyat (manunggal) merupakan bagian dari beberapa konsep kepemimpinan yang berpihak mutlak untuk masyarakat.
Secara filosofis, pemimpin yang tidak berjarak dengan masyarakatnya, sikap mengayomi, sabar, dan memberi ruang bagi ekologi sosial yang berdampak secara langsung terhadap kehidupan.
Konsep keteladanan dan upaya positif untuk membangkitkan semangat di tengah kesulitan masyarakat dan memberikan dorongan moral sebagai wujud bagian dari masyarakat dan bukan mengedepankan power sebagai penguasa daerah.
Analogi pemimpin yang mengedepankan hubungan emosional dan harmonisasi dengan dasar kasih sayang, empati, dan mengutamakan kesejahteraan masyarakat justeru akan memotivasi dan memberikan ruang terbuka terhadap kritik positif dan bukan sebagai bagian dari rasa kebencian. Apalagi bersifat kecemburuan sosial yang berlebihan.
Pemimpin yang dicintai dan lahir dari rumput adalah pemimpin daerah yang tidak otoriter, karena menganut prinsip “Duduk sama rendah, tegak sama tinggi”.
Artinya, konsep kedekatan antara pemimpin dan masyarakat yang tetap dekat, mudah dijangkau, dan akuntabel dengan pertimbangan objektif.
Entah disadari atau tidak,Pemimpin daerah lahir dari embrio konstitusi dan dipilih dengan harapan bermakna pemurah, kemampuan berdiplomasi, dan keberhasilan dalam membantu ekonomi masyarakat.
Mari kita adaptasikan rujukan Akar Rumput dan Dampak Sosial berupa konsep Egaliter (Setara) dengan skema kunjungan ke lapangan dan membaur tanpa sekat dengan tujuan agar masyarakat merasa dihargai dan didengar.
Dialog interaktif yang menjadi tempat mengadu yang aman tanpa terbebani aturan protokoler.
Bukan hanya itu,namun kemampuan sang pemimpin merasakan langsung kesusahan atau kemiskinan rakyat. Kebijakan yang diambil tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan objektif.
Pada akhirnya, Kepercayaan publik (trust) akan menjadi penyambung psikologi dan kecintaan tersendiri sebagai sikap bertanggung jawab dan kesetiaan mutlak sebagai masyarakat untuk membangun daerah sebagai tanggung jawab bersama antara pemimpin dan masyarakat. (PRI Kabupaten Muara Enim)





Komentar