
Beritakreatif.com, Bandar Lampung – Universitas Lampung (Unila) melalui Fakultas Pertanian terus mendorong pengembangan singkong atau ubi kayu untuk meningkatkan produktivitas, kualitas bahan baku, serta kesejahteraan petani di Lampung.
Salah satu upaya yang tengah dikembangkan adalah melalui National Cassava Center (NCC) atau Pusat Pengembangan Ubi Kayu Nasional yang berpusat di Lampung. Program ini diarahkan untuk melahirkan varietas singkong unggul dengan kadar pati tinggi dan masa panen lebih singkat, sehingga mampu memenuhi kebutuhan industri tapioka sekaligus memberikan keuntungan lebih baik bagi petani.
Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Dr. Ir. Kuswanta Futsal Hidayat, M.P., mengatakan, pengembangan NCC berawal dari inisiasi Fakultas Pertanian Unila yang mendapat kesempatan mempresentasikan gagasan tersebut di hadapan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas pada 27 Januari 2026.
Menurutnya, setelah presentasi tersebut, Fakultas Pertanian Unila menggelar seminar akselerasi pengembangan NCC pada 18 Mei 2026. Kegiatan itu menghadirkan Direktur Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas, Jarot Hindiarto, untuk membahas arah pengembangan pusat singkong nasional.
“Selanjutnya, pada 15 Juli 2026, Unila mengadakan rapat koordinasi bersama sejumlah pemangku kepentingan, termasuk pejabat Pemerintah Provinsi Lampung, guna mematangkan rencana pengembangan dan peresmian NCC,” ujarnya, Senin (26/10/2026).
Ia menjelaskan, puncaknya, NCC diresmikan pada 24 Juli 2026. Dalam kesempatan tersebut, Unila juga menyampaikan proposal dukungan pembangunan pusat pengembangan singkong nasional yang direncanakan berlokasi di kawasan Kampus Unila, Kota Baru. Untuk sementara, kegiatan NCC masih berkantor di lingkungan Unila.
“Intinya, National Cassava Center ini berpusat di Lampung. Untuk sementara masih di Unila, sambil terus bergerak mempersiapkan pembangunan pusat NCC di Kota Baru,” jelasnya.
Bidik Varietas Singkong Panen 6 Bulan
Salah satu fokus utama NCC adalah penelitian untuk menghasilkan klon atau varietas singkong baru yang memiliki kadar pati tinggi dengan umur panen lebih pendek.
Ia mengatakan, sejumlah varietas singkong yang saat ini dibudidayakan petani umumnya membutuhkan waktu sekitar delapan hingga sepuluh bulan untuk mencapai umur panen yang baik.
Ke depan, NCC mendorong penelitian varietas yang dapat dipanen pada usia enam hingga tujuh bulan, tetapi tetap memiliki kadar pati tinggi, yakni sekitar 22 hingga 25 persen.
“Inovasi tersebut penting untuk meningkatkan efisiensi budidaya sekaligus mempercepat perputaran usaha petani. Dengan masa tanam yang lebih singkat, petani diharapkan dapat mengelola lahan secara lebih produktif tanpa mengorbankan kualitas singkong,” katanya.
Meski demikian, varietas baru tersebut masih dalam tahap penelitian dan pengembangan. Hasilnya akan disampaikan kepada publik setelah melalui proses penelitian yang memadai.
“Ke depan, kami berharap bisa menghasilkan klon atau varietas singkong berumur genjah, sekitar enam sampai tujuh bulan, dengan kadar pati tetap tinggi,” jelasnya.
Sungai Budi Group Kucurkan Dana Riset Rp1 Miliar
Sementara itu, untuk mendukung pengembangan teknologi dan budidaya singkong, NCC juga memperoleh dukungan pendanaan penelitian dari Sungai Budi Group.
Ia menyebutkan, dukungan tersebut mencapai sekitar Rp1 miliar untuk empat tim peneliti yang terpilih menjalankan penelitian melalui demonstrasi plot atau demplot singkong di lapangan.
“Program ini diharapkan menjadi sarana pengujian berbagai metode budidaya dan pengembangan singkong yang sesuai dengan kebutuhan petani serta industri pengolahan” ungkapnya
Namun, pelaksanaan demplot tersebut masih menunggu kondisi cuaca yang lebih mendukung. Kemarau panjang yang melanda wilayah Lampung membuat tim peneliti belum dapat memulai kegiatan di lapangan.
Ia menyampaikan, pelaksanaan penelitian demplot direncanakan mulai dilakukan ketika hujan mulai turun dan kondisi lahan memungkinkan. Di luar kegiatan demplot, penelitian singkong juga terus berjalan melalui para dosen dan peneliti, khususnya di lingkungan Fakultas Pertanian Unila.
Jembatani Kepentingan Petani dan Industri Tapioka
Selain menghasilkan varietas unggul, NCC juga diharapkan mampu menjembatani kepentingan petani singkong dengan industri tapioka.
“Selama ini, petani memiliki kebebasan memilih varietas yang akan ditanam. Namun, persoalan muncul ketika orientasi petani lebih menitikberatkan pada besarnya hasil panen, sementara industri membutuhkan singkong dengan kadar pati tinggi,” tuturnya.
Ia menegaskan, perbedaan tersebut berpotensi memengaruhi nilai ekonomi hasil panen dan kesesuaian bahan baku untuk kebutuhan pabrik. Karena itu, NCC berupaya memberikan rekomendasi varietas berdasarkan hasil penelitian, dengan mempertimbangkan produktivitas, kadar pati, umur panen, serta kebutuhan industri pengolahan.
“Kami ingin menjembatani petani dengan pabrik. Petani perlu mendapat informasi mengenai varietas yang produksinya bagus, kadar patinya tinggi, dan sesuai dengan kebutuhan industri tapioka,” tegasnya.
Melalui langkah tersebut, petani diharapkan tidak hanya mengejar kuantitas hasil panen, tetapi juga memperhatikan kualitas singkong yang dapat memberikan nilai tambah.
Belajar dari Thailand
Ia berharap, untuk memperkuat pengembangan NCC, tim Unila bersama pihak pendukung juga melakukan studi banding ke Thailand guna mempelajari pengembangan komoditas singkong di negara tersebut.
Dalam kunjungan itu, rombongan mengunjungi Kasetsart University dan Thai Tapioca Development Institute (TTDI), lembaga yang berkaitan dengan penelitian dan pengembangan singkong di Thailand. Tim juga mempelajari praktik pengembangan bibit serta usaha pengolahan singkong.
“Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi Lampung dalam membangun sistem pengembangan singkong yang lebih terintegrasi, mulai dari penelitian varietas, penyediaan bahan tanam, budidaya, hingga pemenuhan kebutuhan industri,” harapnya.
Ia menegaskan, Lampung memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan singkong nasional. Dukungan pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan petani menjadi faktor penting untuk mewujudkan tujuan tersebut.
Dengan hadirnya NCC, Unila berharap penelitian singkong tidak berhenti di laboratorium, tetapi menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan langsung di lahan pertanian.
“Pada akhirnya, pengembangan varietas unggul, peningkatan kadar pati, efisiensi masa panen, serta kesesuaian bahan baku dengan kebutuhan industri diharapkan mampu memperkuat daya saing singkong Lampung dan meningkatkan kesejahteraan petani,” tutupnya.(WB)











Komentar