
Beritakreatif.com, Bandar Lampung -Pekan Kebudayaan Daerah Provinsi Lampung Ke V, yang bertema “Harmoni Budaya Bumi Lampung Menuju Indonesia Emas 2045” yang di gelar Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Provinsi Lampung, Selasa (20/10/2026).
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Americo, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga, melestarikan, dan mengembangkan bahasa serta identitas budaya Lampung agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda.
Menurutnya, Pekan Budaya Daerah bukan sekadar agenda pertunjukan seni, melainkan momentum penting untuk memperkuat kecintaan masyarakat terhadap warisan budaya daerah sekaligus memperkenalkan kekayaan seni dan tradisi Lampung kepada masyarakat luas.
Ia mengatakan, peringatan Hari Kebudayaan Nasional pada 17 Oktober menjadi pengingat penting bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus mengapresiasi, melestarikan, mengembangkan, serta mempromosikan seni dan nilai-nilai warisan budaya Indonesia.
“Budaya bukan hanya berkaitan dengan seni dan tradisi, tetapi juga bahasa yang menjadi bagian penting dari identitas kita. Karena itu, diperlukan kolaborasi semua pihak untuk merawat dan menjaga kebudayaan daerah agar tidak terkikis oleh perkembangan zaman,” ujarnya.
Ia menyoroti semakin berkurangnya penggunaan bahasa Lampung dalam percakapan sehari-hari, terutama di tengah perubahan sosial dan harmonisasi budaya yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.
Ia mencontohkan pengalaman dalam lingkungan keluarga. Menurutnya, perbedaan latar belakang suku dalam perkawinan dapat memengaruhi bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bahasa yang akhirnya dikuasai oleh anak-anak.
“Kita bandingkan kondisi itu dengan sejumlah daerah lain, seperti Jawa Barat dan Palembang, yang menurutnya masih memiliki kebiasaan kuat dalam menggunakan bahasa daerah di tengah kehidupan masyarakat,” katanya.
“Kenapa di Lampung kita masih merasa sulit untuk bercakap-cakap menggunakan bahasa Lampung, padahal kita sama-sama orang Lampung? Ini menjadi bahan renungan dan pekerjaan bersama,” ungkapnya.
Ia menegaskan, pelestarian bahasa daerah harus dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga ruang publik. Penggunaan bahasa Lampung dalam kehidupan sehari-hari dinilai menjadi langkah sederhana, tetapi penting untuk menjaga keberlangsungan identitas budaya daerah.
“Kenapa di Lampung kita masih merasa sulit untuk bercakap-cakap menggunakan bahasa Lampung, padahal kita sama-sama orang Lampung? Ini menjadi bahan renungan dan pekerjaan bersama,” ungkapnya.
Menurutnya, potensi budaya daerah perlu dikemas secara menarik agar dapat menjadi daya tarik wisata, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Ia mencontohkan pengembangan kawasan budaya yang menghadirkan rumah adat, penyewaan pakaian tradisional, pertunjukan seni terjadwal, hingga rute perjalanan wisata yang mengangkat kearifan lokal.
“Dengan konsep tersebut, masyarakat dan wisatawan tidak hanya melihat kebudayaan Lampung sebagai tontonan, tetapi juga dapat merasakan pengalaman langsung dalam mengenal tradisi dan kehidupan masyarakat setempat,” jelasnya.
Thomas menilai, gagasan tersebut perlu dibahas secara komprehensif bersama para pelaku seni, budayawan, komunitas adat, serta pemangku kepentingan lainnya agar dapat diwujudkan melalui perencanaan yang matang.
Ia juga mendorong pemerintah daerah dan seluruh pihak yang peduli terhadap kebudayaan untuk memperkuat kolaborasi dalam memperjuangkan dukungan anggaran, baik dari pemerintah pusat maupun melalui APBD.
“Perlu perjuangan dan kolaborasi bersama agar cita-cita para pendahulu kita dalam menjaga identitas daerah tetap terwujud. Kita ingin kebudayaan Lampung tetap terjaga dan lestari untuk generasi mendatang,” tegasnya.
Ia berharap Pekan Budaya Daerah dapat menjadi momentum untuk membangkitkan kebanggaan masyarakat terhadap identitas lokal, meningkatkan kepedulian generasi muda terhadap warisan leluhur, serta memperluas promosi kebudayaan Lampung.
“Dengan keterlibatan pemerintah, komunitas budaya, dunia pendidikan, dan masyarakat, pelestarian budaya diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala UPTD Taman Budaya Provinsi Lampung, Melly Ayunda, mengatakan bahwa penyelenggaraan PKD tidak sekadar menjadi ajang pertunjukan seni, tetapi juga sebagai upaya mengenalkan kembali kekayaan budaya Lampung kepada masyarakat luas.
Menurutnya, pelestarian budaya membutuhkan kolaborasi berbagai pihak agar warisan leluhur tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Tujuan kegiatan ini untuk melestarikan dan mengenalkan kembali budaya kepada masyarakat. Budaya bukan hanya tentang pertunjukan atau lakon, tetapi juga mencakup nilai-nilai dan tradisi yang hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, PKD ke-5 menghadirkan berbagai bentuk kesenian dan tradisi dari komunitas yang terlibat. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang pertemuan bagi para seniman, kelompok masyarakat, dan pemangku kepentingan untuk bersama-sama mengembangkan kebudayaan daerah.
Ia menegaskan, keberhasilan pelestarian budaya tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Dukungan komunitas, seniman, serta partisipasi aktif masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi dan kesenian daerah.
“Kami mengajak masyarakat untuk hadir dan meramaikan rangkaian kegiatan PKD yang berlangsung selama lima hari. Melalui keterlibatan langsung, masyarakat diharapkan semakin mengenal, menghargai, dan mencintai kebudayaan Lampung,” katanya.
Sementara itu, Staf Ahli Gubernur Lampung Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Yayan Ruchyansyah, menilai PKD menjadi wadah strategis untuk membangun kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga identitas budaya daerah.
Menurutnya, generasi muda harus memiliki kebanggaan terhadap budaya Lampung agar kesenian dan tradisi daerah tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
Ia menekankan, pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama, terutama masyarakat Lampung sendiri sebagai pemilik warisan budaya tersebut.
“Kegiatan seperti ini bisa menjadi wadah bagi generasi muda agar bangga dengan budaya Lampung. Kalau bukan kita sendiri yang menjaga dan melestarikannya, lalu siapa lagi?” ujarnya.
Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan kebudayaan. Keterlibatan secara langsung dinilai penting untuk menumbuhkan kecintaan sekaligus memastikan budaya Lampung tetap dikenal oleh generasi mendatang.
Menurutnya, PKD menjadi kesempatan yang tepat untuk memperkenalkan kekayaan seni dan tradisi Lampung kepada masyarakat, sekaligus memperkuat identitas daerah di tengah dinamika perkembangan zaman.
“Melalui penyelenggaraan PKD ke-5 Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Lampung berharap kebudayaan daerah semakin berkembang, mendapat ruang apresiasi yang luas, serta menjadi kebanggaan masyarakat, khususnya generasi muda,” harapnya.
Pelestarian budaya bukan sekadar menjaga peninggalan masa lalu, melainkan memastikan nilai-nilai luhur dan identitas Lampung tetap hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.(WB)





Komentar