oleh

Inflasi Lampung Tetap Terkendali di Akhir 2025, BI Waspadai Risiko Pangan dan Gejolak Global

Berita Kreatif.

Menutup tahun 2025, laju inflasi di Provinsi Lampung tetap berada pada level yang terjaga. Indeks Harga Konsumen (IHK) Lampung pada Desember 2025 tercatat mengalami inflasi sebesar 0,59 persen (month to month/mtm), lebih tinggi dibandingkan November 2025 yang sebesar 0,36 persen (mtm), namun masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 0,64 persen (mtm).

Secara tahunan, inflasi Lampung pada Desember 2025 tercatat 1,25 persen (year on year/yoy).

Angka ini berada jauh di bawah inflasi nasional sebesar 2,92 persen (yoy) dan masih dalam rentang sasaran inflasi nasional.

Capaian tersebut menunjukkan stabilitas harga di Lampung relatif terjaga di tengah dinamika ekonomi dan tekanan global.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Lampung menjelaskan bahwa inflasi bulanan Desember 2025 terutama dipicu oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, perawatan pribadi dan jasa lainnya, serta transportasi.

Komoditas utama penyumbang inflasi antara lain cabai rawit, bawang putih, bawang merah, emas perhiasan, dan bensin.

“Kenaikan harga cabai rawit dipengaruhi oleh tekanan pasokan pasca berakhirnya masa panen, ditambah penurunan kualitas produksi akibat tingginya curah hujan,” ujar Kepala perwakilan KPw BI Lampung Bimo Epyanto dalam keterangannya, Selasa, (6/1/2025).

Sementara itu, kenaikan harga bawang merah dipicu menurunnya pasokan dari sentra produksi di Jawa Barat dan Sumatera Barat, seiring meningkatnya serangan organisme pengganggu tanaman serta gagal panen akibat banjir.

Dari sisi nonpangan, harga emas perhiasan turut naik mengikuti tren kenaikan harga emas dunia di tengah ketidakpastian geopolitik global.

“Penyesuaian harga bensin juga dipengaruhi kebijakan harga BBM nonsubsidi yang mengikuti perkembangan harga energi internasional sepanjang 2025,” lanjutnya.

Di sisi lain, tekanan inflasi Desember 2025 tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas, seperti tomat, salak, terong, serta sabun mandi.

Selain itu, tarif angkutan sungai, danau, dan penyeberangan turut mengalami penurunan seiring pemberian diskon tarif dalam rangka Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru.

“Terjaganya pasokan dari periode panen di beberapa sentra produksi lokal menjadi faktor utama turunnya harga komoditas hortikultura,” jelas Bimo.

Ke depan, KPw BI Provinsi Lampung memprakirakan inflasi Lampung pada akhir 2026 tetap berada dalam rentang sasaran 2,5±1 persen (yoy).

Meski demikian, sejumlah risiko tetap perlu diwaspadai, baik dari sisi inflasi inti, bahan makanan bergejolak (volatile food), maupun harga yang diatur pemerintah (administered prices).

Dari sisi inflasi inti, risiko berasal dari peningkatan permintaan agregat akibat penyesuaian Upah Minimum Provinsi (UMP) yang direalisasikan bertahap, meningkatnya mobilitas masyarakat saat Ramadan dan Idulfitri 1447 H, serta berlanjutnya kenaikan harga emas dunia akibat ketidakpastian geopolitik dan kebijakan ekonomi Amerika Serikat.

Sementara itu, risiko inflasi pangan dipengaruhi oleh potensi gangguan panen dan distribusi akibat curah hujan tinggi dan risiko banjir, sejalan dengan prediksi berlanjutnya fenomena La Nina lemah hingga awal 2026.

Risiko juga meningkat pada periode high season Ramadan dan Idul Fitri, serta potensi gangguan distribusi antarwilayah akibat bencana hidrometeorologi di wilayah Sumatera.

Adapun dari sisi harga yang diatur pemerintah, BI mencermati potensi kenaikan harga minyak dunia akibat tensi geopolitik di Timur Tengah, serta kemungkinan penyesuaian tarif angkutan darat dan udara pada periode puncak libur akhir tahun.

Menanggapi berbagai dinamika tersebut, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung menegaskan komitmen melanjutkan pengendalian inflasi melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

“Sinergi pengendalian inflasi akan terus diperkuat melalui operasi pasar, penguatan kerja sama antar daerah, optimalisasi transportasi dan logistik, hingga komunikasi publik yang konsisten agar ekspektasi inflasi tetap terjaga,” tegasnya.(rls)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *